Redaksi Dan Pemasaran No Hp. 0813-6402-3369 Keprinews.com--Lengkap & Aktual

Blusukan ke Pasar, Presiden Ingin Bandingkan Harga di Tiga Kota

Presiden kembali blusukan ke pasar tradisional Pasar Cihaurgeulis, Kota Bandung.(Foto: Rusman - Biro Pers Setpres)

Keprinews.com,Bandung--Mengawali hari kedua kunjungan kerjanya ke Provinsi Jawa Barat, Minggu, 11 November 2018, Presiden Joko Widodo kembali blusukan ke pasar tradisional. Kali ini pasar yang disambangi Presiden adalah Pasar Cihaurgeulis, Kota Bandung.

 Presiden Joko Widodo  blusukan ke pasar tradisional di Bandung(Foto: Rusman - Biro Pers Setpres)

Tiba pukul 07.30 WIB di Pasar Cihaurgeulis yang berlokasi di Jalan PHH. Mustofa, Presiden disambut para pedagang dan pembeli yang memadati pasar. Sebagian dari mereka pun langsung berebut untuk bersalaman dan berswafoto.

Presiden kemudian berjalan ke dalam pasar untuk berinteraksi dengan para pedagang. Tak hanya itu, ia juga membeli beberapa jenis sayuran seperti ubi, kangkung, dan bayam.

Kepala Negara mengatakan, dirinya mengunjungi Pasar Cihaurgeulis untuk membandingkan harga komoditas saat ini. Seperti diketahui, sebelumnya Presiden juga memantau langsung harga di pasar yang berada di kota lain, yaitu di Pasar Bogor pada 30 Oktober 2018 dan di Pasar Anyar, Kota Tangerang pada 4 November 2018 lalu.

"Ya saya membandingkan pasar di Tangerang, pasar di Bogor, pasar di Bandung. Harga semuanya sama," kata Presiden di area Car Free Day (CFD) Dago, seusai blusukan.

Berdasarkan pantauan Presiden di Pasar Cihaurgeulis, 1 ikat kangkung harganya sama dengan harga di Pasar Bogor, yakni Rp2.000. Lalu, 1 ikat daun singkong di Pasar Cihaurgeulis harganya sama dengan di Pasar Anyar dan Pasar Bogor, yakni Rp2.000.

“Kemudian telur juga sama harganya. Dulu Rp28 ribu (per kilogram), sekarang turun sampai Rp20-22 ribu (per kilogram). Daging (ayam), nah ini daging naik sedikit. Tadinya Rp28-Rp30 ribu, sekarang Rp33-Rp35 ribu.Kalau beras harganya stabil,” sambungnya.

Sementara untuk komoditas lain seperti cabai terpantau stabil di kisaran Rp40 ribuan, meski dulu sempat berada di kisaran Rp80 ribuan. Ia mengatakan tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan harga antara produsen dan konsumen.

"Memang tidak bisa kita menghendaki harga cabai sampai Rp10 ribu, harga bawang sampai Rp5 ribu, petaninya yang kasihan. Artinya pemerintah menjaga keseimbangan agar harga pada posisi normal, wajar petaninya senang, sebagai produsen. Konsumennya masyarakat senang karena harganya tidak fluktuatif," ujarnya.

Presiden pun mengapresiasi pemerintah kota yang telah berupaya untuk membenahi pasar tradisional yang tadinya becek dan bau menjadi pasar yang tertata dan bersih. Ia pun berharap semua pasar tradisional bisa seperti itu.

"Pasar yang rapi, manajemennya baik, tidak bau. Saya kira semua pasar tradisional arahnya ke sana. Saat ini ada 2.500 pasar yang sudah kita bangun, itu di kota dan kabupaten. Tapi pasar desa juga lebih dari 5.000 yang kita bangun," ungkapnya.

Setelah sekira 20 menit blusukan di pasar, Presiden kemudian menuju ke kawasan Dago untuk mengikuti Car Free Day (CFD). Di sini, Presiden pun kembali menjadi sasaran masyarakat yang hadir untuk berjabat tangan dan berswafoto.

Dalam blusukan kali ini, Presiden didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki.


Bandung, 11 November 2018
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Bey Machmudin

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Blusukan ke Pasar, Presiden Ingin Bandingkan Harga di Tiga Kota"

Post a Comment

DUKUNGAN TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan puncak dari semua perjuangan bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan mendapatkan sambutan yang luar biasa dan dukungan yang spontan dari segenap penjuru tanah air. Dinding-dinding rumah dan bangunan, pagar-pagar tembok, gerbong-gerbong kereta api, dan apa saja, penuh dengan tulisan merah “MERDEKA ATAU MATI.” Juga tulisan “SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA.” Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 telah menetapkan Pekik Perjuangan “MERDEKA”sebagai salam nasional yang berlaku mulai tanggal 1 September 1945. Caranya dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan “Merdeka”. Pekik “Merdeka” menggema di mana-mana di seluruh wilayah Indonesia.KEPRINEWS.COM-MEDIA AKTUAL DAN TERPERCAYA