Redaksi Dan Pemasaran No Hp. 0813-6402-3369 Keprinews.com--Lengkap & Aktual

Pengungkapan Kasus Tindak Pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem

Press release Pengungkapan Kasus Tindak Pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem(foto:humas Polda kepri)
Keprinews.com,Batam- Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol. Drs. S. Erlangga adanya konpres tentang Pengungkapan Kasus Tindak Pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem Pada hari Senin, tanggal 22 April 2019, sekira pukul 14.00 wib yang dihadiri Dir Pol Air Polda Kepri Kombes Pol Benyamin Sapta T., S.I.K. M.Si,Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol. Drs. S. Erlangga,Komandan Kapal KP. Baladewa 8002,Kepala seksi Konservasi wilayah II BKSDA Riau,Kepala TU Karantina ikan Batam,Kepala PSDKP Batam.

Pada hari Jum’at tanggal 19 April 2019 pukul 02.00 WIB KP. Baladewa - 8002 yang sedang melaksanakan patroli menggunakan Ship Tender di Pantai Teluk Mata Ikan berhasil menggagalkan memperjual belikan penyu di Pantai Teluk Mata Ikan yang diangkut menggunakan truck dan di Keramba Tg. Piayu Laut sebanyak 148 Ekor (39 Ekor Jenis Sisik, 79 Ekor Jenis Hijau dan 30 Ekor dalam kondisi mati) diduga melanggar tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.


Adapun Barang Bukti yang diamankan yaitu 1 (satu) Unit Truk, 148 (seratus empat puluh delapan ) Ekor Penyu yang terdiri dari 39 (tiga puluh sembilan) ekor jenis Sisik,79 (tujuh puluh Sembilan) ekor jenis Hijau,30 (tiga puluh) ekor dalam kondisi mati.

Sampai dengan saat ini terus dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku inisial K, pasal yang dilanggar adalah pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan c UU RI no.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem jo pasal 55 KUHP Pidana.


Dalam penjelasan dari Dir Pol Air Polda Kepri bahwa penyu yang diamankan ini digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan yaitu dengan cara melepas penyu ke laut, kegiatan ini biasanya dilakukan oleh turis dari luar negeri yang berasal dari negara Malaysia dan Singapura. 

"Penyu tersebut diperjualbelikan dengan harga berkisaran Rp. 500.000,- di beli dari masyarakat kemudian dijual kembali dengan harga kisaran Rp. 1.000.000,- dan Rp. 1.500.000,- bahkan sampai dengan harga Rp. 3.000.000 harga tersebut menyesuaikan ukuran penyu, Hal ini merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. 

Dari sekian banyak penyu yang ditemukan terdapat dalam kondisi luka dikarenakan pada saat proses perburuan/penangkapan, untuk itu penyu yang masih hidup kita lakukan upaya penyelamatan dengan pemeriksaan oleh Dokter Hewan dan evakuasi ke penangkaran di Pulau Mencaras" ujarnya.


Juga Penyampaian Kepala seksi Konservasi wilayah II BKSDA Riau bahwa untuk jenis penyu ini dilindungi oleh Undang-undang nomor 5 tahun 1990. Jadi penyu ini tidak ada yang bisa memperjualbelikan, memiliki, menyimpan, komsumsi ataupun untuk dijadikan hiasan. Yang berwenang melakukan pemeliharaan, penyelematan dan penetasan telur hanya lembaga Konservasi berizin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Perhutanan. 

Dan kita  menghimbau juga kepada masyarakat yang melakukan aktivitas keagamaan dengan melepas penyu, lebih baiknya bersama-sama mengamankan telur penyu dan setelah menetas dilakukan pelepasan bersama-sama. Hal ini bertujuan untuk merubah Mindset masyarakat yang melakukan aktivitas penangkapan penyu dan melepaskannya kembali ke laut tentunya dapat melukai dan membunuh penyu itu sendiri.(red/hms)

Editor: red

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengungkapan Kasus Tindak Pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem "

Post a Comment

DUKUNGAN TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan puncak dari semua perjuangan bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan mendapatkan sambutan yang luar biasa dan dukungan yang spontan dari segenap penjuru tanah air. Dinding-dinding rumah dan bangunan, pagar-pagar tembok, gerbong-gerbong kereta api, dan apa saja, penuh dengan tulisan merah “MERDEKA ATAU MATI.” Juga tulisan “SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA.” Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 telah menetapkan Pekik Perjuangan “MERDEKA”sebagai salam nasional yang berlaku mulai tanggal 1 September 1945. Caranya dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan “Merdeka”. Pekik “Merdeka” menggema di mana-mana di seluruh wilayah Indonesia.KEPRINEWS.COM-MEDIA AKTUAL DAN TERPERCAYA